Penderita Thalassemia Terus Meningkat Setiap Tahun

Tubuh manusia ibarat sebuah mesin canggih yang tiada tandingannya di dunia ini. Setiap organ atau komponen saling mendukung sehingga membentuk mekanisme kerja yang seirama dalam satu kesatuan.

Nah, bayangkan jika salah satu organ itu rusak sehingga tak berfungsi. Niscaya sistem kerja tubuh secara keseluruhan akan terganggu.

Salah satu “onderdil” vital tubuh manusia adalah darah. Darah ibarat alat transportasi internal yang mendukung semua kerja tubuh manusia. Otomatis, kelainan pada darah bisa mengganggu sistem sirkulasi tubuh.

Salah satu penyakit akibat kelainan darah adalah thalassemia. Sebenarnya, penyakit ini sudah lama ada, tetapi orang-orang tak tahu pasti namanya. Penderita penyakit ini bisa menemui malaikat maut lebih cepat dari usia wajar orang sehat.

Thalassemia adalah kelainan pada darah akibat sumsum tulang belakang tidak bisa membentuk protein untuk memproduksi sel darah merah (hemoglobin). Padahal, tugas hemoglobin adalah mengangkut oksigen dari paru-paru ke seluruh tubuh.

Menurut Pustika Amalia, dokter dan konsultan Hematologi Anak Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) Jakarta, akibat penyakit ini, fungsi pengangkut oksigen tersebut tidak berjalan.

Penderita thalassemia terus meningkat setiap tahun. Berdasarkan data Yayasan Thalassemia Indonesia,penderita yang berobat di Pusat Thalassemia RSCM hingga Juli 2008 mencapai 1.412 orang. Sebanyak 775 penderita penyakit ini adalah laki-laki.

Penyakit keturunan

Thalassemia bukan penyakit menular, melainkan penyakit bawaan dari orangtua. Karena itu, mayoritas penderitanya adalah anak-anak. Jika salah satu di antara ayah atau ibu memiliki kelainan sel darah merah, kemungkinan si anak mengidap penyakit thalassemia mencapai 25 persen.

Secara umum, ada dua jenis thalassemia, yaitu mayor dan minor. Thalassemia mayor berarti si pasien memang menderita penyakit itu, sedangkan thalassemia minor berarti pembawa gen sifat penyakit itu. Karena itu, penderita thalassemia mayor perlu mendapat perhatian khusus.

Para penderita penyakit jenis ini tidak punya sel darah merah yang cukup. Gejalanya bisa kelihatan ketika bayi berusia tiga bulan hingga 18 bulan. Jantung si bayi sering berdetak lebih cepat karena dipaksa bekerja keras memenuhi sel darah merah. Tanpa penanganan khusus, usia penderita bakal segera berakhir.

Adapun penderita thalassemia minor bisa berkembang seperti anak normal lainnya. Hanya terkadang pada usia empat hingga enam tahun, si anak akan terus menerus mengalami gejala anemia, seperti pusing, muka pucat, dan badan sering lemas.

Kata Pustika yang juga pengurus Yayasan Thalassemia Indonesia, penderita thalassemia minor hampir tidak pernah bermutasi menjadi thalassemia mayor.

Penanganan terhadap penderita dua jenis thalassemia tersebut tentu saja berbeda. Namun, kata Djajadiman Gato, Sp A, dokter anak dari Rumah Sakit Omni Internasional Alam Sutera, Serpong, semua penderita thalassemia dilarang melakukan segala aktivitas yang menguras tenaga.

Pasien yang menjalani perawatan harus memenuhi beragam pengobatan dengan biaya yang jelas tak murah. Seperti biaya transfusi darah, peralatan, perawatan, obat, dan keperluan lain, seperti menyewa atau membeli alat pompa infus. Setiap tahun, seorang pasien bisa menghabiskan biaya sampai Rp 250 juta.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *